Kutemukan Rumahku - Bulan Sabit Kembar

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

22 Desember 2013

Kutemukan Rumahku

“Sekarang Islam menjadi agamaku. Ini adalah keputusan pribadiku. Dan sekarang aku merasa seperti kembali ke akar.” Ellis mengungkapkan, ia seperti kembali pulang ke rumah ketika memeluk Islam. Kunjungan ke Senegal menjadi sangat istimewa buatku, inilah tempat bersejarah yang menghantarkanku ke pangkuan Islam. Senegal, sebuah negara yang terletak di barat Afrika, 94% muslim.

Awalnya, Senegal dijajah oleh Portugis pada abad ke-15. Kemudian, kawasan koloni Senegal diambil alih oleh Perancis pada abad ke-17. Perancis saat itu melakukan eksploitasi besar-besaran atas sumber daya alam dan rakyat Senegal. Banyak warga kulit hitam Senegal diangkut ke Eropa dan Amerika untuk dijadikan budak.

Sungguh perjalananku ini seperti mengulas sejarah panjang nenek moyangku yang berasal dari benua Afrika ini. Aku menyempatkan diri berkunjung ke Pulau Goree. Sekitar 15 menit menggunakan fery dari Dakar. Kira-kira 2 menit sebelum ferry bersandar, terlihat dari jauh keindahan pulau Goree.

Pertama yang terlihat adalah bangunan yang bagus, dicat warna-warna cerah bergaya Eropa kuno dengan sentuhan seni Prancis yang kental sekali. Kemudian terlihat semacam bangunan benteng kuno di depan pulau. Bangunan kuno inilah yang membuatku terkesima, rumah mungil yang sangat sederhana ini dulunya dijadikan tempat penampungan budak. Aku seakan melihat para budak diangkut meninggalkan tumpah darah mereka.

Rumah budak ini, saat masuk terkesan ‘angker’. Bangunan ini berlantai dua. terdapat dua tangga melingkar, hampir membentuk lingkaran. Di tengah tangga ini, lurus dari tempatku berdiri, terlihat suatu lorong yang berujung dengan sebuah pintu yang mengarah ke laut. Pintu lorong itu merupakan tempat para budak keluar menuju kapal yang membawa mereka ke Amerika dan Eropa. Sekali keluar pintu tersebut, tidak akan balik lagi!!! Inilah titik bersejarah yang menyadarkan arti kunjunganku ke pulau Goree ini.

Aku mencoba menghadirkan peristiwa kelam itu dalam kehidupanku kini. Seluruh kepedihan saat nenek moyangku satu persatu digiring paksa menaiki kapal dengan para serdadu yang bengis. Berdesakan, tertatih-tatih dalam geladak kapal yang kumuh. Aku sadar, aku adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah mereka.

Ada bagian penting yang membuatku gelisah sejak berada di Senegal ini. Yaitu pemandangan kaum muslimin yang sedang shalat, dan inilah yang menjadi benang pertama dalam kisah keislamanku ini.

Seringkali aku duduk-duduk di dekat jendela yang memanjang di atas halaman luas di belakang tempat penginapanku. Aku selalu terkesima saat para lelaki berkumpul berdiri beberapa kali di siang hari untuk shalat. Mereka semua berdiri dalam satu shaf yang memanjang, dengan satu imam. Mereka ibarat sebuah pasukan kalau dilihat dari gerakan-gerakan mereka. Semuanya serempak membungkuk ke arah Mekah, kemudian menyungkur sujud. Dahi-dahi mereka menempel ke bumi. Mereka mengikuti ucapan-ucapan pelan pemimpin mereka.

Dia berdiri di antara rukuk dan sujud, dengan meletakkan kedua kakinya. Yang tak beralas di atas sajadahnya yang khusus untuk shalat, meletakkan kedua tangannya di atas dadanya, dan menggerak-gerakkan bibirnya tanpa suara., tenggelam dalam kekhusyukan yang dalam. Aku melihat kalau dia shalat dengan segenap jiwanya. Aku benar-benar dibuat gelisah melihat shalat yang begitu mendalam diikuti gerakan-gerakan tubuh yang otomatis.

Maka, pada suatu hari aku bertanya kepada salah seorang dari mereka, karena dia paham sedikit-sedikt bahasa Inggris., “Apakah Anda benar-benar yakin bahwa Allah melihat penghormatan-penghormatan yang Anda tampakkan kepada-Nya dengan mengulang-ulang rukuk dan sujud itu? Bukankah lebih tepat kalau seseorang memisahkan lalu shalat kepada Allah dengan hatinya? Untuk apa semua gerakan-gerakan tubuh Anda itu?”

Hampir-hampir aku tidak mampu melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu tanpa merasa bersalah dan mencela diri sendiri. Hal itu karena aku tidak berniat melukai perasaan orang tua yang shaleh ini. Akan tetapi, Pak Tua ini tidak menampakkan sedikit pun tanda-tanda tersinggung. Malah mulutnya melebarkan senyuman.

Dia menjawab, “Kalau begitu, dengan cara apakah kita menyembah Allah? Bukankah jasad dan ruh itu Allah ciptakan bersamaan? Jika demikian halnya, tidak wajibkah manusia shalat dengan jasadnya sebagaimana dia shalat dengan ruhnya? Dengarlah, saya akan memahamkan Anda mengapa kami kaum muslimin melaksanakan shalat sebagaimana yang kami lakukan selama ini. Kami mengarahkan wajah-wajah kami ke arah Ka’bah, Baitullah al-Haram, di Mekah, dan seluruh kaum muslimin di manapun mereka berada juga menghadap ke arah Ka’bah dalam shalat mereka. Kami ini seperti satu tubuh. Allahlah yg menjadi pusat pikiran kami saat itu.

“Penjelasan itu membuatku teduh walau udara di Senegal ini sangat terik, aku benar-benar yakin untuk pindah ke agama Islam.” Maka pada bulan Desember, akhir tahun kemarin di Senegal, Ellis resmi masuk Islam. Dan keislamannya itu disiarkan stasiun televisi lokal WMAZ, di Columbia, Carolina Selatan.

“Anda akan melaksanakan sesuatu karena adanya kenyakinan yang benar, bagiku hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Begitupun orang ingin tahu apa yang anda yakini. Dan inilah yang aku yakini dalam hidup ini, yakni Islam.”

Jack Ellis, walikota Macon Negara Bagian Georgia Amerika Serikat, masuk Islam. Dia tengah mengurus proses administrasi penggantian nama menjadi Hakim Mansour Ellis.

Ellis kini menjadi seorang muslim, dia telah mempelajari kitab suci Al-Quran selama bertahun tahun. Dan agama baru anutannya, Islam, sebenarnya bukan sesuatu yang baru dilaksanakan karena jauh sebelumnya nenek moyangnya sudah menjadi pemeluk Islam sejati yang waktu itu menggiring mereka ke Amerika Utara sebagai budak.

Atas permintaan kakak-kakaknya, Ellis tetap akan mempertahankan nama akhir sama dengan nama lama, yaitu Ellis. Sedangkan yang diganti Jack menjadi Hakim Mansour.

Ellis sadar betul bahwa dia menjadi muslim dengan segala konsekwensinya, bukan sekadar ganti nama. Dia tidak meragukan kalau perpindahan agamanya ke Islam bisa berpengaruh kepada dukungan politik masyarakatnya, terutama bila digelar pemilihan nantinya.

Sebagai seorang tokoh masyarakat, Ellis merasa perlu mempublikasikan keputusannya masuk Islam, karena warga yang telah memilihnya berhak tahu atas itu meski keputusan itu adalah urusan pribadinya.

“Aku tetap menjadi orang yang sama, meski aku sudah berganti nama. Sekarang, aku harus berbagi dengan keluarga besarku, warga Macon yang mendukungku ketika masih beragama Kristen dan aku percaya mereka akan tetap mendukung,” kata Ellis optimis.

Ellis lahir pada 6 Januari 1946 dengan mendapatkan gelar sarjana muda di bidang sastra dari St. Leo College di Florida. Dia pernah bertugas sebagai pasukan paramiliter selama dua tahun dalam perang Vietnam. Kala itu ia bergabung dengan Divisi Penerbang ke-101, dengan pangkat Sersan.

Selama pengabdiannya, Ellis berhasil mendapatkan perhargaan tiga bintang perunggu, medali Army Commendation for Valor dan Heroism serta penghargaan Purple Heart karena luka-luka yang dialaminya dalam perang Vietnam.

Keislaman Ellis merupakan sebuah fenomena menggembirakan di negeri Mr. Bush berkuasa. Januari lalu, anggota DPR Keith Ellison berhasil duduk di dewan terhormat AS sebagai Muslim pertama yang terpilih untuk anggota Kongres AS. Demokrat asal Michigan itu dilahirkan di Detroit dan kemudian memeluk Islam ketika masih menjani masa kuliah di salah satu perguruan tinggi di AS.

Islamlah salah satu agama yang berkembang paling cepat di AS. bahkan, sesuai prakiraan yang dimuat dalam lembar fakta Departemen Luar Negeri AS, pada tahun 2010, jumlah penduduk Muslim AS diperkirakan akan melampui jumlah kaum Yahudi, dan menjadikan Islam agama terbesar nomor dua di negara itu setelah agama Kristen.

Masyarakat Muslim Amerika merupakan sebuah mosaik kebudayaan, para anggotanya berasal dari kelima benua. Sesungguhnya, menurut sebuah penelitian baru-baru ini, kebanyakan kaum Muslimin adalah imigran – 77,6 persen berbanding 22,4 persen yang lahir di AS. Penelitian itu juga menunjukkan asal-usul masyarakat Muslim sebagai berikut: 26,2 persen dari Timur Tengah (Arab); 24,7 persen dari Asia Selatan; 23,8 persen Amerika keturunan Afrika; 11,6 persen lain-lain; 10,3 persen Timur Tengah (non-Arab); dan 6,4 persen Asia Timur.

Meskipun di Amerika Serikat tidak ada catatan jumlah penduduk berdasarkan agama, para pakar memperkirakan bahwa kaum Muslimin di Amerika berjumlah sekitar enam juta jiwa. Pekiraan-perkiraan lain berkisar antara empat dan delapan juta jiwa. The Britannica Book of the Year memperkirakan bahwa pada pertengahan tahun 2000 terdapat 4.175.000 Muslim di Amerika Serikat, 1.650.000 di antaranya berasal dari kalangan Amerika keturunan Afrika.

Rata-rata 17.500 Amerika keturunan Afrika berpindah ke agama Islam tiap tahun antara 1990 dan 1995. Kelompok-kelompok Muslim pertama di Amerika yang datang dalam jumlah besar berasal dari Afrika Barat antara tahun 1530 sampai 1851 karena adanya perdagangan budak. Mereka terdiri dari sekitar 14 persen sampai 20 persen dari ratusan ribu orang Afrika Barat yang dipaksa pindah dari tanah leluhur mereka.

Jumlah kaum Muslimin berikutnya yang datang ke Amerika Serikat dalam jumlah besar terjadi pada awal abad ke-20. Mereka datang dari Libanon, Suriah dan negara-negara lain di seluruh Kekhalifahan Otsman (Turki). Pada masa Pasca-perang Dunia II, selama 1960-an dan 1970-an, terjadi gelombang imigran ketiga terbesar dari seluruh dunia Islam.

Gelombang ini mencakup juga banyak kaum Muslimin yang datang untuk belajar di universitas-universitas Amerika. Kira-kira sepertiga kaum Muslimin Amerika hidup di Pantai Timur (32,2 persen), 25,3 persen hidup di kawasan Selatan, 24,3 persen di kawasan Tengah, dan 18,2 persen di kawasan Barat. Ada sekitar 2000 masjid di seluruh negeri serta berbagai sekolah Islam yang berlangsung pada hari biasa, dan sekolah Islam yang berlangsung pada hari Minggu serta akhir minggu.

Setelah masuk Islam, bapak lima anak itu mulai menjalankan salat lima waktu dan secara rutin datang ke Islamic Center di Bloomfield Road. Meski sudah masuk Islam, Ellis menyatakan ia tidak pernah meremehkan agama lain dan untuk itu ia mengaku bangga dengan kebebasan beragama di AS.

“Aku tidak mengatakan bahwa agama yang satu lebih baik dari agama yang lain. Aku sangat meyakini bahwa Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir, seperti juga meyakini Musa sebagai nabi, ” tuturnya.

Ellis akan mengakhiri jabatannya sebagai walikota Macon pada bulan Desember 2007. Ia tidak bisa menjabat lagi sebagai walikota, karena sudah terpilih sebanyak dua kali masa jabatan yang lamanya empat tahun.

Namun Ellis mengatakan, kemungkinan ia akan ikut serta dalam pemilihan anggota Kongres tahun 2008, mewakili wilayah Georgia distrik ke-8.

Ellis pertama kali diangkat jadi walikota Macon pada 14 Desember 1999. Ia menjadi warga kulit hitam AS pertama yang terpilih sebagai walikota, sepanjang 176 tahun sejarah AS. Dan ia menjadi walikota Macon ke-40 yang berhasil terpilih dua kali berturut-turut.

Sekali lagi di tengah terpaan hebat akan tudingan ‘teroris’ yang telah menjadi opini global. Allah telah memperlihatkan keperkasaannya kepada semua manusia, terutama rakyat Amerika bahwa Islam tidak seperti yang mereka tuduhkan. Satu persatu hidayah itu merebak ke relung hati-hati yang hanif untuk merasakan kedamaian dalam dekapan ad-Din yang mulia ini.

Menurut Ellis umat Islam sama sekali tidak dapat dituding begitu saja walau pada kenyataannya memang ada beberapa orang yang bersikap radikal. “Seandainya seseorang ingin mengetahui tentang Islam, aku bisa mengadakan suatu pembicaraan intelektual,” katanya. “Namun justeru yang sering aku temukan adalah betapa sempitnya kita memahami tentang agama.”






Sumber : Facebook artati Sansumardi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad

Responsive Ads Here